Qishash atau Diyat Atas Kekejaman Densus 88


Seruan pembubaran Densus 88 kini semakin santer setelah Ketua PP Muhammadiyah yang juga Wakil Ketua Umum MUI Pusat Prof. Dr. Din Syamsuddin bersama beberapa pimpinan ormas menyambangi Kapolri Jenderal Timur Pradopo Kamis 28 Februari lalu dengan membawa kaset video pelanggaran HAM oleh Densus 88 kepada rakyat muslim. Ketua Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane dalam rilisnya (Sabtu 2/3) juga menyarankan agar Densus 88 dibubarkan dan personilnya yang terlibat penyiksaan diadili sebagai pelaku tindak pidana penyiksaan. Bahkan saran Neta sudah disampaikan di depan para kasat Brimob se-Indonesia di Watukosek Jawa Timur Februari lalu. Kabarnya Ketua MPR Lukman Hakim Saifuddin juga mendukung usulan pimpinan Ormas Islam untuk pembubaran Densus 88 tersebut.

Seruan pembubaran Densus 88 ini pernah dilakukan Forum Umat Islam (FUI) beberapa tahun lalu, yang telah melaporkan pelanggaran Densus 88 ke Mabes Polri, Kompolnas, Komisis III DPR, Komnas HAM, bahkan clash action ke PN Jaksel, namun tidak ada tanggapan serius. Mudah-mudahan seruan Pak Din dengan baju MUI dan Ormas Islam ini ditanggapi serius. Apalagi akhir-akhir ini Densus memang tampak lebih ngawur seperti kasus pelanggaran Densus yang menghilangkan nyawa pedagang kue di Makasar dan Dompu atas nama pemberantasan terorisme maupun penangkapan aktivis Masjid Baitul Karim Tanah Abang saat membagi daging korban pada Idul Adha lalu. Alhamdulillah, atas kerjasama FUI, TPM, media massa Islam, dan MUI aktivis masjid tersebut dibebaskan dan jenazah tukang kue dipulangkan ke kampung halaman.

Oleh karena itu, seharusnya Kapolri segera memenuhi usulan dan tuntutan para pimpinan ormas di atas. Kalau Kapolri atau Menkopolhukam memandang tuntutan pembubaran Densus 88 berlebihan, dan menganggap keberadaan Densus 88 diperlukan, sementara Polri mengakui adanya Pelanggaran HAM oleh Densus 88 seperti ditunjukkan dalam video (juga laporan investigasi pelanggaran Densus 88 oleh Komnas HAM), maka akan menjadi aneh kalau tidak dibubarkan. Orang bisa menyimpulkan, keberadaan Densus 88 diperlukan untuk melanggar HAM, untuk menindas rakyat?!

Padahal kezaliman itu, apakah pembunuhan atau penyiksaan kepada rakyat, disamping akan menimbulkan dendam kesumat, juga di akhirat para pelaku kezaliman itu akan bangkrut karena seluruh pahalanya akan digunakan untuk menutup dosa-dosa pihak yang dizalimi, dan jika tidak cukup maka dosa-dosa orang yang dzalimi itu dioper kepada pelaku kezaliman hingga dia dilempar ke dalam neraka! Kasihan personil Densus dan siapapun yang terlibat dalam penzaliman kepada umat Islam akan bangkrut di akhirat kelak! Na’udzbillahi mindzalik.

Bila mau ishlah, maka Polri harus meminta maaf kepada para korban penyiksaan atau keluarga korban pembunuhan oleh Densus 88 dengan kesiapan membayar diyat (ganti rugi) atas berbagai penyiksaan dan penghilangan nyawa atau anggota badan mereka yang dicap teroris. Diyat atas pembunuhan sengaja (al qatl amad) adalah sebesar 100 ekor onta dengan  perincian 40 ekor di antaranya hamil. Ini disebut diyat yang berat (diyat mughalazhah). Kalau diuangkan sekitar 1000 dinar atau 2,38 milyar rupiah menurut kurs dinar hari ini.

Ganti rugi terhadap penghilangan anggota badan secara rasio sesuai dengan diyat pembunuhan. Penghilangan dua tangan wajib dibayar dengan diyat 100 ekor onta, satu tangan 50 ekor onta, satu mata 50 ekor onta, satu gigi 5 ekor onta, 3 gigi rontok 15 ekor onta, dan seterusnya.

Jika tidak mau membayar diyat maka harus diqishash. Untuk yang membunuh harus dihukum mati (QS. Al Baqarah 178-179). Untuk yang menghilangkan mata harus dihilangkan matanya, untuk  yang menghilangkan kuping harus dihilangkan kupingnya, dan sebagainya (QS. Al Maidah 45).

Sesungguhnya nilai manusia itu lebih besar dari bilangan di atas. Allah SWT befirman: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan Karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan Karena membuat kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan dia Telah membunuh manusia seluruhnya. dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah dia Telah memelihara kehidupan manusia semuanya. (QS. Al Maidah 32).

Islam sangat menghargai keselamatan badan dan jiwa manusia. Siapapun warga negara harus dilindungi keselamatan badan dan jiwanya dengan syariat Islam. Dan nilai keselamatan badan dan jiwa sangat mahal, sehingga sesama warga negara tidak gampang menyerang, melukai, apalagi membunuh satu sama lain.

Adapun para teroris, seperti mereka yang melakukan penyerangan dan penghadangan di jalan-jalan  seperti yang terjadi di Papua maka mereka dihukumi dengan tegas, sebagaimana firman Allah SWT:  Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar,  (QS. Al Maidah 33).

Namun menyiksa dan membantai aktivis Islam atas nama perang melawan terorisme, padahal mereka bukan teroris yang sudah jelas-jelas teroris seperti teroris Papua yang banyak membunuh rakyat dan aparat, hanya analisa dan teori, lalu asal gebuk, akan menghadapi hukum Allah yang berat di dunia maupun di akhirat. Na’udzubillah! (suara-islam)/cronicl

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s